Friday, November 13, 2015

TEKNIK LAS MANIK LURUS POSISI DATAR


Pada pengelasan SMAW, salah satu teknik yang sering digunakan adalah teknik pengelasan maik-manik lurus posisi datar. Berikut ini adalah tips dan langkah-langkah untuk pengelasan manik-manik lurus untuk posisi datar SMAW:

1. PERSIAPAN

langkah pertama pada pengelasamn ini adalah melakukan persiapan dengan tahapan-tahapannnya sebagai berikut :
a. Menempatkan logam dasar dengan tebal 9 mm pada meja kerja las dengan posisi yang stabil dan pastikan permukaannya bersih.
b. Mengatur arus las dengan besaran antara 150 dan 160 A.
c. Atur posisi tubuh seperti pada gambar di atas

2. PENYALAAN BUSUR

Penyalaan busur dengan busur api sekitar 10-20 mm didepan titik awal dan kembali ke posisi semula seperti terlihat pada gambar di atas

3. PENGELASAN MANIK-MANIK LAS

a. Tempatkan kawat las 90 derajat terhadap permukaan logam dasar dan 70 sampai 80 derajat terhadap arah pengelasan.
b. Tahan dengan seksama lebar rigi-rigi pastikan jangan sampai melebihi dua kali diameter inti.
c. Pastikan bahwa panjang busur kira-kira 3- 4 mm.
d. Arahkan kawat las pada ujung lubang pengelasan.

4. MEMATIKAN BUSUR LAS

Untuk mematikan busur las biarkan panjang busur menjadi pendek lalu segera matikan busur las

5. MENYAMBUNG MANIK-MANIK LAS

Terbatasnya panjang kawat las terbungkus yang digunakan pada proses pengelasan ini mengakibatkan terputusnya manik-manik las. Untuk menyambung kembali manik-manik las ikuti petunjuk berikut :
a. Bersihkan ujung lubangnya.
b. Nyalakan busur las sekitar 20 mm di depan kawah las dan putar balik kekawah lasnya.
c. Buat endapan sehingga kawah lasnya terisi lalu pindahkan kawat lasnya ke depan.
d. Pengisian kawah/lubang las, dengan membuat endapan pada kawah las sehingga sama rata dengan bahan yang dilas.
1) Untuk panjang busur biarkan panjangnya memendek pada ujung garis pengelasan dan buatlah lingkaran kecil 2 atau 3 kali.
2)Kemudian nyalakan dan matikan busur secara berulang-ulang dan pastikan sudah melakukan [embersihan sebelum awal pengelasan
e. Pemeriksaan hasil las, setelah proses pengelasan selesai, lakukan pemeriksaan pada hal-hal berikut :
1) Kondisi akhir ujung pengelasan.
2) Hasil pengelasan (ketebalannya, kekuatannya, relung-relung lasnya).
3) Takik / Tumpang tindih (overlapping)

Wednesday, November 11, 2015

UJI KEKERASAN LAS


Uji Kekerasan Las
Kekerasan suatu material adalah tolak ukur kemampuan material tersebut untuk menahan deformasi plastis. Faktor kekerasan materi adalah juga sebagai ketahanan bahan terhadap penetrasi pada permukaannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kekerasan dan kekuatan bahan. Uji kekerasan las adalah satu dari banyaknya proses pengujian yang di pakai dalam pengelasan, karena dapat dilaksanakan pada benda uji yang kecil tanpa kesukaran mengenai spesifikasi. Dengan memberikan beban menggunakan indentor ke dalam permukaan untuk mengetahui material kekerasan dari suatu metal diukur. Pada umunya bentuk indentor adalah piramida, peluru atau bola, atau kerucut, dibuat dari material yang lebih keras dibanding material yang diuji. Misalnya karbit tungsten, baja yang dikeraskan, atau intan yang biasanya digunakan untuk indenters.  Metode pengujian kekerasan sangat sederhana, sehingga banyak dilakukan dalam pemilihan bahan. Terdapat beberapa macam metode pengujian kekerasan yang dapat disesuaikan dengan ukuran, bahan, kekerasan, dan lain-lain.

A.   UJI KEKERASAN BRINNELL

Uji kekerasan las dengan Brinnell berupa pembentukan lekukan pada permukaan logam dengan menggunakan bola baja berdiameter 10 mm dan diberi beban 3000 kg. Untuk logam lunak, beban dikurangi hingga tinggal 500 kg untuk menghindarkan jejak yang dalam. Sedangkan untuk bahan logam sangat keras digunakan paduan karbida tungsten dengan tujuan untuk memperkecil terjadinya distorsi indentor. Penerapan beban selama waktu tertentu, biasanya 30 detik, dan diameter lekukan diukur dengan mikroskop daya rendah setelah beban tersebut dihilangkan. Kemudian dicari harga rata-rata dari 2 buah pengukuran diameter pada jejak yang berarah tegak lurus.

B.   UJI KEKERASAN VICKERS

Uji kekerasan vickers menggunakan penumbuk piramida intan yang dasarnya berbentuk bujur sangkar. Sudut antara permukaan piramida yang saling berhadapan adalah 136°. pengujian ini sering dinamakan uji kekerasan piramida intan karena bentuk penumbuknya piramida, maka Angka kekerasan vickers (VHN) didefinisikan sebagai beban dibagi luas permukaan lekukan. Pada prakteknya luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang diagonal jejak.
Pada pengujian ini beban yang biasanya digunakan berkisar antara 1 sampai 120 kg,  tergantung pada kekerasan logam yang akan diuji. Lekukan yang benar yang dibuat oleh piramida intan harus berbentuk bujur sangkar. Tetapi penyimpangan dapat terjadi pada penumbuk lekukan. Lekukan bantal jarum dapat disebabkan karena [1] terjadinya penurunan logam di sekitar permukaan piramida yang datar biasanya terjadi pada logam yang dilunakkan dan mengakibatkan pengukuran panjang diagonal yang berlebihan [2] logam yang mengalami proses pengerjaan dingin diakibatkan oleh penimbunan ke atas logam di sekitar permukaan penumbuk. Pada kondisi demikian ukuran diagonal akan menghasilkan luas permukaan kontak yang kecil, sehingga dapat menimbulkan kesalahan angka kekerasan yang besar.

C.   UJI KEKERASAN ROCKWELL

Uji kekerasan Rockwell  memiliki sifat yang cepat dan bebas dari kesalahan manusia,  mampu untuk membedakan perbedaan kekerasan yang kecil pada baja yang diperkeras dan ukuran lekukannya kecil, sehingga bagian yang mendapat perlakuan panas yang lengkap dapat diuji kekerasannya tanpa menimbulkan kerusakan. Uji ini menggunakan kedalaman lekukan pada beban yang konstan sebagai ukuran kekerasan. Mula-mula diterapkan beban kecil (beban minor) sebesar 10 kg untuk menempatkan benda uji. Kemudian diterapkan beban yang besar (beban mayor), dan secara otomatis kedalaman lekukan akan terekam oleh gage penunjuk yang menyatakan angka kekerasan. Untuk indentornya biasanya digunakan penumbuk berupa kerucut intan 120° dengan puncak yang hampir bulat dan dinamakan penumbuk Brale, serta bola baja berdiameter 1/6 inchi. Beban besar yang digunakan adalah 60, 100 dan 150 kg.  16 i nchi dan 1/8.

Monday, November 9, 2015

LAS TITIK


Las Titik

TENTANG LAS TITIK

Las titik adalah salah satujenis yang  harus diketahui, las titik adalah jenis las resistansi listrik yang dikembangkan setelah energi listrik dapat dipergunakan dengan mudah, yang merupakan suatu teknik penyambungan yang ekonomis dan efisien khususnya untuk pengerjaan logam plat. Pada las titik, benda kerja plat (logam) yang akan di sambungkan di jepit dengan kawat las dari paduan tembaga dan kemudian dalam waktu singkat dialirkan arus listrik yang besar. Karena aliran listrik antara kedua kawat las tersebut harus melalui (logam) plat yang di jepit, maka timbul panas pada tempat jepitan yang menyebabkan logam di tempat tersebut mencair dan tersambung. Pada tempat kontak antara kawat las dan plat logam juga terjadi panas karena tahanan listrik, tetapi tidak sampai mencairkan logam karena ujung-ujung kawat las didinginkan.

CARA KERJA LAS TITIK

Cara kerja las titik adalah, transformator dalam mesin las merubah tegangan arus bolak-balik dari 110 volt atau 220 volt menjadi 4 volt sampai 12 volt  maka arusnyamenjadi cukup besar sehingga dapat menimbulkan panas kemudian pelat logam yang dilas dijepit pada tempat sambungan dengan sepasang kawat las dari paduan tembaga dan kemudian dalam waktu yang singkat dialiri arus listrik yang cukup besar. maka pada tempat jepitan timbul panas karena tahanan listrik yang menyebabkan logam mencair dan tersambung. Panas ini juga timbul di tempa kontak antara kawat las dan pelat, tetapi tidak sampai mencairkan logam, karena ujung-ujung kawat las didinginkan dengan air. saat aliran listrik dihentikan, maka logam yang mencair tadi akan menjadi dingin dan terbentuk sambungan dibawah tekanan gaya kawat las agar tidak terjadi busur antara kawat las dan sambungan.

SIKLUS LAS TITIK

Pada las titik, Siklus pengelasan dimulai saat proses waktu tekan atau disebut squezee time adalah ketika kawat las menekan plat dimana arus belum dialirkan. Kemudian adalah proses waktu pengelasan (heat or weld time) arus dialirkan ke kawat las sehingga timbul panas pada pelat di posisi kawat las sehingga terbentuk sambungan las. Selanjutnya proses waktu tenggang (hold time) saat arus dihentikan namun tekanan tetap ada. Kemudian logam dibiarkan mendingin sampai sambungan menjadi kuat dan tekanan di hilangkan dan plat siap dipindahkan untuk dilakukan proses pengelasan dimulai lagi untuk titik yang baru. Peralatan mesin las titik ada tiga jenis yaitu : [1] mesin las titik tunggal stasioner, [2] mesin las titik tunggal yang dapat dipindahkan dan [3] mesin las titik ganda. Mesin las stasioner dapat dibagi lagi atas jenis : lengan ayun dan jenis tekanan langsung. Jenis lengan ayun merupakan jenis yang sederhana dan mempunyai kapasitas kecil.
Las titik menggunakan panas dari arus listrik dan besarnya panas dapat di hitung dengan menggunakan rumus :
H   = I² R t (2.1)
Dengan:
I  = kuat arus listrik (Ampere)
H  = jumlah panas yang dihasilkan (Joule)
t  = waktu pengelasan (detik)
R  = resistansi (ohm)

Saturday, November 7, 2015

REAKSI KIMIA SELAMA PROSES LAS


Reaksi Kimia Selama Proses Las
Pada proses pengelasan, terjadi sambungan las dua buah logam atau lebih yang terjadi karena adanya proses difusi dari logam yang dilas. Proses difusi dalam sambungan las dapat dilakukan dengan kondisi padat Solid state welding (SSW) maupun cair Liquid state welding (LSW).  Dalam proses pengelasan Liquid state welding (LSW) bagian benda kerja dari logam yang dilas harus dipanasi sampai mencair. Pengelasan yang tidak sempurna bisa disebabkan oleh banyak hal, baik pada saat sebelum pengelasa, saat pengelasan, dan setelah pengelasan. Sebelum pengelasan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil las adalah reaksi kimia saat pengelasan.  Pemanasan pada benda kerja logam dengan temperature yang sangat tinggi ini dapat megakibatkan terjadinya reaksi kimia antara logam tersebut dengan Oksigen dan Nitrogen yang ada di dalam udara lingkungan las. Jika selama proses las, cairan logam las (welding pool) tidak dilindungi dari pengaruh udara, maka logam akan bereaksi dengan Oksigen dan Nitrogen kemudian membentuk Oxides dan Nitrides yang dapat menyebabkan logam tersebut menjadi getas dan keropos maupun aus karena terdapat kotoran (slag inclutions), sedangkan kandungan unsur Karbon yang ada dalam logam akan membentuk gas CO dapat mennimbulkan munculnya rongga dalam caviety  atau logam las.  Reaksi kimia yang lainnyapun bisa terjadi dalam welding pool (cairan logam las). Gas Hydrogen dan uap air juga dapat menyebabkan cacat las (welding defect). Hydrogen yang bereaksi dengan Oxides yang ada dalam logam dasar dapat mengakibatkan terjadinya uap yang mengakibatkan terjadnya porositas pada logam lasan.
Untuk melindungi hasil pengelasan, agar tidak aus dan keropos maka harus dilakukan pelindungan cairan logam las. Misalnya hasil las yang bagus jika menggunakan nyala netral untuk mengelas baja karbon , untuk pengelasan logam dengan OAW, cairan logam dilindungi dari udara luar oleh reduksi gas hasil pembakaran gas Acetylene.  Sedangkan dalam teknik pengelasan SMAW, proses pelindungan logam lasan dilakukan dua tahap yaitu petama, saat logam las dalam kondisi cair dilindungi oleh bermacam-macam gas hasil pembakaran kawat las dan kedua, ketika membekunya cairan ini dilindungi oleh lapisan terak yang terbentu dari fluks yang membeku.

Thursday, November 5, 2015

KAWAT LAS UNTUK LOGAM FERRO


Kawat Las Untuk Logam Ferro

LOGAM FERRO

Logam Ferro adalah merupakan logam besi (Fe), namun seringkali dicampur dengan unsur lain (yang paling umum adalah karbon) untuk memperbaiki sifatnya untuk memperoleh sifat sesuai kebutuhan.

JENIS BESI

A. Besi murni : Besi yang bisa diperoleh hanya dengan reaksi kimia.
B. Besi teknik : Besi yang dicampurkan dengan unsur lain untuk tujuan tertentu. Jenis dari Besi teknik antara lain :
1. Besi Tuang
Komposisi : campuran besi dan karbon.
Kadar karbon : sekitar 4%
Sifat : rapuh tidak dapat ditempa, liat dalam pemadatan, baik untuk dituang, lemah dalam tegangan.
Penggunaan : untuk membuat alas mesin, badan ragum, bagian-bagian mesin bubut, meja perata, blok silinder, dan cincin torak.
2. Besi Tempa
Komposisi : terdiri dari 99% besi murni.
Sifat : dapat ditempa, liat, dan tidak dapat dituang.
Penggunaan : untuk membuat rantai jangkar, landasan kerja pelat dan kait keran.
3. Baja Lunak
Komposisi : campuran besi dan karbon.
Kadar karbon : 0,1%-0,3%
Sifat : dapat ditempa dan liat.
Penggunaan : untuk membuat mur, pipa, sekrup dan keperluan umum dalam pembangunan.
4. Baja Karbon Sedang
Komposisi : campuran besi dan karbon.
Kadar karbon : 0,4%-0,6%
Sifat : lebih kenyal daripada yang keras.
Penggunaan : untuk membuat benda kerja tempa berat, rel baja dan poros.
5. Baja Karbon Tinggi
Komposisi : campuran besi dan karbon.
Kadar karbon : 0,7%-1,5%
Sifat : dapat ditempa, dapat disepuh keras, dan dapat dimudakan.
Penggunaan : untuk membuat kikir, gergaji, stempel, pahat, tap dan alat mesin bubut.
6. Baja Karbon Tinggi dengan Campuran
Komposisi : baja karbon tinggi ditambah nikel atau kobalt, khrom, atau tungsten.
Sifat : rapuh, tahan suhu tinggi tan
a kehilangan kekerasan, dapat disepuh keras, dan dimudakan.
Penggunaan : untuk membuat mesin bubut dan alat-alat mesin.

KLASIFIKASI BAJA

  • Baja Karbon : Baja karbon merupakan paduan dari besi karbon, dengan unsur karbon sangat menentukan sifat-sifatnya sedangkan unsur-unsur darai bahan paduan lain yang biasanya terkandung di dalam paduan ini terjadi karena proses pembuatannya, sifat baja karbon pada umumnya ditentukan oleh persentase karbon dan juga mikrostruktur.
  • Baja Paduan : Baja paduan merupakan baja yang didalamnya terkandung satu unsur lain atau lebih dari satu dengan kadar yang lebih besar daripada karbon. Baja paduan bila dilihat berdasarkan kadar unsur paduannya, terbagi dua golongan yaitu baja paduan rendah dengan unsur paduan dibawah 10% dan baja paduan tinggi unsur paduannya diatas 10%.
  • Baja Khusus : Baja khusus merupakan baja yang memiliki unsur-unsur paduan tinggi dikarenakan kebutuhan pemakaian khusus yang antara lain yaitu baja tahan karat, baja perkakas, baja tahan panas dan baja listrik.
  • Baja tahan karat merupakan baja yang unsur utamanya adalah Khrom yang berfungsi sebagai unsur terpenting untuk mendapatkan sifat tahan korosi. Baja tahan karat menurut struktur terbagi jadi tiga macam yaitu baja tahan karat feritis, baja tahan karat martensitas dan austenitis.
  • Baja perkakas merupakan baja yang dibuat dengan ukuran yang tidak besar namun memegang peranan dalam industri-industri, unsur-unsur paduan dalam karbitnya tersebut diperlukan untuk mendapatkan sifat-sifat tersebut dan juga agar tetap kuat pada temperatur tinggi.
  • Baja tahan panas dan tahan korosi merupakan baja yang harus tetap tahan korosi walaupun pada kondisi suhu lingkungan lebih tinggi atau oksidasi.

STANDARISASI INTERNASIONAL BAJA

  1. Amerika Serikat
  2. ASTM ( American Society for Testing Materials )
  3. AISI (Americal Iron and Steel Institute) and SAE (Society of Automotive Engineers)
  4. UNS (United Numbering System)
  5. Jepang (JIS = Japan Industrial Standar)
  6. Standarisasi Jerman (DIN = Deutsche Industrie Norm)
  7. Standarisasi Perancis (NF)

KAWAT LAS UNTUK LOGAM FERRO

Kawat Las EDZONA menyediakan kebutuhan pengelasan untuk material logam ferro dengan spesifikasi beragam. Silahkan mengunjungi menu prooduk untuk informasi lebih lanjut atau jika anda kesulitan menentukan pilihan, gunakan fasilitas free konsultasi dari bagian teknis EDZONA.

Tuesday, November 3, 2015

KAWAT LAS TUNGSTEN

kawat las tungsten
Pengelasan Tungsten, argon, atau disebut Las TIG ( Tungsten Inert Gas Welding) atau  GTAW (Gas Tungsten Arc Welding) adalah pengelasan yang terbaik dari proses las listrik modern, karena dalam pengelasan jika penyebaran panas yang berlebihan pada benda kerja, maka dikurangi dengan adanya penambahan gas pelindung inert juga sekaligus sebagai gas pendingin. Metode pengelasan ini dibandingkan dengan proses pengelasan fusi lainnya, memiliki beberapa keunggulan. Hubungannya dengan las TIG berpulsa dan TIG arus bolak-balik dalam proses pengelasannya dapat meningkatkan kemampuan pencairan material las. Dalam pengelasan TIG, hampir tidak ada cacat las maupun beban kesehatan karena asap las relatif yanf rendah. Kelebihan lain dari pengelasan TIG adalah pekerja las atau juru las tidak bekerja dengan elektroda habis sekali pakai. Pengelasan dapat dilakukan dengan penambahan logam pengisi. Pekerja las atau juru las dapat menyesuaikan kekuatan las secara optimal untuk pekerjaan pengelasan dan harus memahami hanya sebanyak pengisian yang diperlukan. Sehingga metode ini sangat cocok untuk akar lasan (root) dan segala posisi pengelasan.

KAWAT LAS TUNGSTEN EDZONA

Kawat Las Tungsten dengan kualitas bagus, memiliki beberapa tipe di bawah ini :

KAWAT LAS ARGON EDZOLOT-30

RBL – Ag 44
Diameter : 1,6
kawat las spesial produk digunakan untuk pengelasan ferro dan non ferro terutama baja, tembaga, kuningan, stainless steel dan paduan nikel.Batang las berlapis flux dengan formula paduan perak tinggi yang tidak beracun, tahan korosi untuk keperluan maintenance. Kekuatan tarik 98-87.000 PSI, Titik lebur 590 – 640 °C.

KAWAT LAS ARGON EDZONA-11 TIG

ER 70 S
Diameter : 1,6 dan 2,4 – 3,20
Paduan baja carbon rendah serba bisa untuk maintenance untuk pengelasan semua baja umumnya. Memudahkan semua posisi pengelasan dengan baik sekali kualitas deposite lasnya sangat baik

KAWAT LAS ARGON EDZONA-11 TIG

ER 70 S
Diameter : 1,6 dan 2,4 – 3,20
Paduan baja carbon rendah serba bisa untuk maintenance untuk pengelasan semua baja umumnya. Memudahkan semua posisi pengelasan dengan baik sekali kualitas deposite lasnya sangat baik

KAWAT LAS ARGON EDZONA-108 TIG

Er 308 L – 16
Diameter : 1,2 & 1,6 & 2,0 & 2,4
kawat las spesial produk merupakan batang las yang berupa rod untuk pengelasan Characteristic Stainless Steel Low Carbon yang disesuaikan untuk Stainless steel keperluan umum dengan grade 301, 302, 304, 308, 309. Tahan Korosi, Hot Crack, tahan kimia serta tidak beracun. Digunakan dengan las argon.

KAWAT LAS ARGON EDZONA-109 TIG

Er 309 Mo L- 16/17 dan Er 23 12 2 LR 12
Diameter : 1,2 & 1,6 & 2,0 & 2,4
kawat las argon yang serba guna, dapat menyambung dengan baik dengan baja karbon atau baja paduan (alooy). Membentuk martensit yang homogen dengan logam yang dilas sehingga mengikat dengan kuat dan tidak lepas, tahan terhadap panas dan temperatur tinggi.

KAWAT LAS ARGON EDZONA-112 TIG

ER 312 – 16
Diameter : 1,6 dan 2,4 – 3,20
kawat las spesial produk merupakan batang las berupa rod untuk semua jenis Characteristic Baja dan paduannya, termasuk yang sulit, hasil pengelasannya mempunyai kekuatan tarik tinggi serta tahan terhadap korosi dan panas.Digunakan dengan las argon

KAWAT LAS ARGON EDZONA-116 TIG

ER 316 – L
Diameter : 1,2 & 1,6 & 2,0 & 2,4
kawat las dengan kandungan Molibdenum yang memberikan ketahanan extra terhadap korosi bahan kimia. Cocok untuk berbagai keperluan pengelasan argon , hasil las tanpa retak, slag lepas secara otomatis serta warna deposit yang bersih membuat EDZONA-116 sesuai untuk pembuatan tangki-tangki pengolahan makanan, minuman dan farmasi. Dapat digunakan pada segala posisi dengan penetrasi sangat dalam.

Sunday, November 1, 2015

KAWAT LAS UNTUK LOGAM FERRO DAN NON FERRO


Kawat Las Untuk Logam Ferro Dan Non Ferro

LOGAM FERRO

Logam ferro adalah logam besi (Fe) yang merupakan termasuk logam penting didalam bidang teknik, namun besi yang murni memiliki sifat yang terlalu lunak dan rapuh jika digunakan sebagai material konstruksi, benda kerja, dll. Maka dari itu logam besi selalu dicampurkan dengan unsur yang lain (terutama karbon) agar bisa mendapatkan sifat sesuai dengan yang kebutuhan.
Jenis besi antara lain adalah Besi murni, Besi teknik (Besi mentah / Besi kasar, Besi tuang dan Baja / Besi tempa).
Dalam aplikasi bidang teknik yang disebut sebagai Logam ferro adalah besi karbon atau baja karbon, yang bahan dasarnya unsur besi (Fe) dan karbon (C) selain itu juga unsur lain yaitu silisium, mangan, fosfor, belerang dan beberapa bahan lain dengan kadar yang relatif rendah. Fungsi unsur-unsur tambahan tersebut adalah untuk merubah sifat besi atau baja sesuai kebutuhan, namun tetap unsur karbon memiliki pengaruh paling besar pada besi atau baja terutama pada kekerasannya.
Jenis Logam Besi : Besi Tuang, Besi Tempa, Baja Lunak, Baja Karbon Sedang, Baja Karbon Tinggi, Baja Karbon Tinggi, Pengelompokan Baja, Baja Karbon, Baja Paduan, Baja Khusus
Standarisasi Baja
  1. Amerika Serikat
  2. ASTM ( American Society for Testing Materials )
  3. AISI (Americal Iron and Steel Institute) and SAE (Society of Automotive Engineers)
  4. Menurut UNS (United Numbering System)
  5. Jepang (JIS = Japan Industrial Standar)
  6. Standarisasi Jerman (DIN = Deutsche Industrie Norm)
  7. Standarisasi Perancis (NF)

LOGAM NON FERRO

Logam Non Ferro (Logam Bukan Besi) adalah jenis-jenis logam yang tidak memiliki kandungan unsur besi (Fe).
Jenis logam non ferro ini terdiri dari :
  1. Logam Non Ferro Murni : platina, emas, perak
  2. Logam Non Ferro Campuran (Alloy) : nikel, kromium, molybdenum, wolfram, magnesium, titanium, kalsium

KAWAT LAS PERBAIKAN LOGAM FERRO DAN NON FERRO

Kawat Las maintenance EDZONA menyediakan keperluan pengelasan untuk material beragam termasuk untuk material yang memiliki kandunagn logam ferro maupun logam non ferro. Untuk mempelajari produk Kami lebih lanjut, silahkan kunjungi menu kawat las pada web kami.