Wednesday, December 9, 2015

PENETRANT TEST

Penetrant Test 2
PENGERTIAN PENETRANT TEST
Penetrant Test (PT) disebut juga dengan istilah Dye Penetrant Check yang merupakan suatu teknik Non-Destructive Testing yang bertujuan mencari keretakan pada sebuat material. Metode yang digunakan pada Penetrant Test ada dua pilihan yaitu menggunakan perbedaan warna atau menggunakan fluoresensi. Metode yang paling umum digunakan adalah Penetrant Test mengguakan metode perbedaan warna.
PENETRANT TEST DENGAN METODE PERBEDAAN WARNA
Pada metode ini penetrant yang diperlukan adalah yang jenisnya solvent removable. Bahan Untuk Penetrant Test Dengan Metode Perbedaan Warna
1.       Digunakan sebagai pembersih material yanga akn dikerjakan sekaligus sebagai pembersih sisa penetrant sebelum diaplikasikan developer.
2.       Merupakan zat yang berfungsi mempenetrasi crack.
3.       Merupakan zat yang berfungsi mengangkat penetrant dari dalam crack yang dilakukan pengetesan agar bisa menuju ke permukaan.
Tahapan Penetrant Test Dengan Metode Perbedaan Warna :
1.       Pembersihan benda kerjaFungsi : Diperlukan pembersihan benda kerja sebelum melakukan penetrant, hal tersebut dikarenakan tingkat kebersihan permukaan benda kerja akan berpengaruh pada daya desak penetrant. Cara : Pada permukaan yang kasar misalkan pada casting, bisa terlebih dahulu dilakukan pengerindaan agar menjadi  rata, area permukaan benda kerja harus bersih ± jarak 25.4 mm dari area pengetesan yaitu bebas dari semua jenis kotoran dan bahan-bahan lain disekitarnya yang bisa mempengaruhi hasil indikasi adanya crack. Pembersihan permukaan area benda kerja bisa menggunakan cleaner (solvent) yang disemprotkan pada benda kerja tersebut lalu dilap sampai bersih, setelah kering baru bisa dilakukan penetrant, pengeringan dapat dilakukan dengan pengeringan normal (evaporasi normal) atau bisa juga dengan udara hangat selain itu ada pilihan lain pembersih yang masih bisa ditolerir sebelum proses penetrant, yaitu menggunakan deterjen, descaling solution, organic solvent, penghilang minyak atau dengan cara pembersihan dengan metode ultrasonic dan degreasing juga masih diijinkan.
2.       Aplikasi penetrant. Penetrant terdiri dari berbagai macam, pada umumnya penetrant yang digunakan adalah penetrant untuk suhu normal yaitu 10-52°C. Aplikasi penetrant bisa digunakan dengan beberapa cara yaitu : disemprot (spray), Jarak penyemprotan yang disarankan adalah 25-30 cm dari benda kerja, dicelu, dikuas
3.       Pembersihan cairan penetrant. Jika penetrasi yang dilakukan telah memenuhi waktu yang dibutuhkan, selanjutnya penetrant tersebut dibersihkan kembali. Cara : Dengan menyeka menggunakan kertas penyerap secara berulang beberapa kali atau dengan cara diseka dengan solvent (cleaner), agar penetrant yang sudah masuk ke dalam crack tidak ikut terbawa lagi oleh cleaner maka perlu ketelitian saat membersihkan sisa penetrant tersebut, benda kerja juga tidak boleh dibersihkan dengan cara dikuras dengan cleaner dengan tujuan membersihkan sisa penetrant, selanjutnya ditunggu sampai kering untuk melakukan penyemprotan developer.
4.       Aplikasi developer. Pada tahap selanjutnya yaitu pengaplikasian developer yaitu dilakukan setelah sisa penetrant sudah benar-benar bersih dan kering, lalu baru dilakukan penyemprotan developer dengan jarak 25-30 cm agar indikasi crack tetap tetap bisa terbaca, karena jika terlalu dekat jaraknya kemungkinan indikasi crack akan tertutupi oleh warna dari developer. Tidak diperbolehkan melakukan evaluasi jika developer belum kering karena indikasi crack masih belum jelas, jadi harus ditunggu sampai kering dulu baru bisa dilakukan evaluasi.
5.       Evaluasi. Hasil dari evaluasi adalah crack bisa diidentifikasi dari perbedaan warna yang muncul, pada umumnya warna merah akan muncul dari dalam crack setelah diangkat oleh developer, bentuk crack biasanya memanjang, bila penerangan pada saat pengetesan kurang bagus, indikasi crack tidak terbaca jadi sebaiknya tingkat keterangan cahaya minimal 100 fc. Terkadang ada permukaan yang tidak sempurna dari machining dan juga permukaan benda kerja yang kurang bersih akan bisa menimbulkan indikasi palsu, maka pengalaman dan ketelitian sangat penting dibutuhkan pada pengetesan tersebut. Jika pengetesan telah selesai, benda kerja harus dibersihkan agar kembali seperti semula.
KAWAT LAS MAINTENANCE EDZONA
Untuk perbaikan dari keretakan /crack pada material benda kerja gunakan kawat las dengan kualitas terbaik dari EDZONA. Untuk mendapatkan Kawat las yang sesuai dengan kebutuhan anda, silahkan kunjungi menu produk Kami.

Sumber : http://kawatlas.jayamanunggal.com/penetrant-test/


Monday, December 7, 2015

TEKNIK PENGELASAN 1G KAMPUH V

Kampuh V banyak digunakan pada sistem sambungan pada pelatpelat tebal. Untuk pengelasan ini dilakukan pengelasan pada satu sisi (single side) dengan urutan pengelasan mulai dari akar (root), pengisian (Filler), dan penutup (caping).
Teknik Pengelasan 1G Kampuh V

LANGKAH KERJA TEKNIK 1G KAMPUH V

  1. periksa kesiapan peralatan kerja, termasuk perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja las.
  2. siapkan 2 buah bahan /pelat baja lunak ukuran 300 x 200 x 10 mm yang kedua sisi panjangnya telah dibevel 30 derajat – 35 derajat.
  3. Bersihkan bahan dan hilangkan sisi-sisi tajamnya dengan kikir atau grinda.
  4. Buat root face selebar 1 – 3 mm dengan menggunakan grinda dan kikir, dan yakinkan bahwa kedua bevel tersebut sama besar dan rata/sejajar satu sama lainnya.
  5. Aatur arus pengelasan tiap tahapan sesuai dengan jenis dan diameter elektroda yang digunakan antara 50 – 120 Amper.
  6. Atur peletakan benda kerja sesuai dengan posisi pengelasan
  7. Buat las catat sepanjang 10 – 15 mm pada kedua ujung bahan dan yakinkan bahwa kedua kepingan tersebut rapat dan sejajar dengan jarak root gap 1 – 3 mm.
  8. Las lapisan akar dengan ayunan
  9. Bersihkan kampuh lapisan akar
  10. Las lapisan tengah dengan ayunan
  11. Bersihkan kampuh lapisan tengah
  12. Las lapisan penutup dengan ayunan
  13. Bersihkan kampuh hasil pengelasan

CARA KERJA

Kedua pelat yang telah dipersiapkan, diletakkan terbalik diatas meja las. Jangan sampai ada kotoran yang mudah menyala misalnya; cat, karat dan terak yang tertinggal melekat pada sisi pertemuan sambungan. Dengan meletakkan potongan-potongan pelat panjang di bawah masingmasing bagian yang akan dilas, lalu pasangan kedua pelat ini membentuk sudut ± 30. Jarak antaranya sebesar ± 3 mm. Dengan memberi kedudukan dalam sudut ± 30 , dimaksudkan untuk mengatasi mengkerutnya sudut setelah benda kerja di las dan menjadi dingin. Untuk mengikat dipakai dua lasan pengikat yang kuat dan setelah  itu benda kerja dibalik untuk dilas.

PENGELASAN BENDA KERJA

Banyaknya lapisan untuk mengelas kampuh  V ditentukan oleh tebalnya pelat. Kampuh las tersusun dari lapisan akar, lapisan tengah dan lapisan penutup.  Sudut pinggulan /kemiringannya 60 derajat. Dalam mengelas lapisan akarnya, dipakai penopang (landasan), supaya penembusan akarnya bebas. Dengan demikian anda dapat menghasilkan pengelasan lapisan akar yang baik. Setelah selesai pengelasan, pada bagian punggungnya harus tampak kampuh yang rata. Setiap peletakan alur las, sisa-sisa terak las harus dibersihkan  dengan memakai sikat kawat, sebelum alur las berikutnya diletakkan. Lapisan akar dan lapisan tengah supaya selalu rata peletakkannya, sebab dengan meningginya kampuh, akan mempermudah terjepitnya terak di dalam kampuh las.  Lapisan penutup diletakkan dengan gerak ayunan, supaya kampuh tampak lebih bagus.

PETUNJUK

PERSIAPAN KAMPUH

Apabila bidang calon sambungan dari kedua pelat berkedudukan sejajar satu sama lain, maka pertemuan ini disebut pertemuan tumpul. Dengan mencairnya kedua bidang pertemuan ini dan adanya tambahan dari bahan tambah selama pengelasan, maka tersusunlah kampuh lasan.

SAMBUNGAN TUMPUL

Meletakkan begitu saja kedua pelat berdampingan tanpa persiapan lebih dahulu, maka seluruh permukaan pertemuan tumpulnya tidak akan terkena las. Sambungan las tersebut hanya merupakan sambungan permukaan saja dan tidak menyeluruh.  Untuk menghasilkan sambungan tumpul yang sempurna, diperlukan adanya persiapan kampuh yang baik dan teliti. Bekas potongan pelatnya, sebelum dilas harus bersih, dan  digerinda supaya menjadi sejajar. Persiapan kampuh harus dikerjakan secara teliti / akurat, supaya dapat menghasilkan akar lasan yang memenuhi syarat. Untuk ini perlu adanya jarak antara yang sesuai dengan tebal pelat.  Sebagai contoh  persiapan untuk    kampuh  I, kampuh V, ataupun  kampuh ganda juga harus teliti dan bersih.

Saturday, December 5, 2015

TEKNIK PENGELASAN FILLET 1F SAMBUNGAN SUDUT LUAR



Teknik Pengelasan Fillet 1F Sambungan Sudut Luar 1
Sambungan Fillet sudah sangat sering digunakan dalam dunia konstruksi maupun bidang manufaktur. Sambungan ini banyak macamnya diantaranya yang umum adalah sambungan sudut luar. Sebelum memulai pengelasan, perhatikan keselamatan kerja, pakaian kerja harus penuh menjamin perlindungan, topeng pelindung tidak boleh ada lubang-lubang atau pecah / retak.

LANGKAH KERJA PENGELASAN FILLET 1F SAMBUNGAN SUDUT LUAR

Berikut ini adalah langkah kerja teknik pengelasan fillet 1f sambungan sudut luar :
  1. Pertama, susun bagian-bagian yang akan dilas disusun pada alat bantu pengelasan.
  2. Mengelas ikat pada ke dua ujung kampuh.
  3. Mengelas lapisan akar (root) dengan gerak ayunan.
  4. Membersihkan lapisan akar.
  5. Mengelas lapisan tengah dengan gerak ayunan.
  6. Membersihkan lapisan tengah.
  7. Mengelas lapisan penutup dengan gerak ayunan.
  8. Membersihkan hasil pengelasan.

CARA KERJA PENGELASAN FILLET 1F SAMBUNGAN SUDUT LUAR

Untuk cara kerja detailnya, adalah sebagai beikut ini :

MENYUSUN DAN MENGIKAT

Untuk menyusun dan mengikat kedua pelat, dipakai alat bantu berupa potongan pelat dengan tebal ± 2,5 mm yang ditempatkan di antara kedua pelat yang akan dilas. Pengikatan dikerjakan dengan mengelas kampuh pendek (las ikat) pada awal dan akhir kampuh dan juga alas ikat tersebut harus benar-benar kuat.

PENGELASAN LAPISAN AKAR (ROOT)

Lapisan akar (root) dilas dengan elektroda dan juga dapat memberikan  penutupan celah yang lebih baik. Menyalakan busur dimulai pada jarak ±15 mm dari awal kampuh. Selanjutnya elektroda digerakkan kembali pada awal kampuh. Lapisan akar harus dilas dengan gerak ayunan supaya dapat mencegah menetesnya cairan las ke bawah, dan supaya dapat dihasilkan akar las yang tampak merata. Selama dalam ayunan, busur harus tetap pendek.  Gerak kesamping ayunan supaya diperlambat (berhenti sebentar) untuk mencegah terjadinya takik las (Undercut).   Sebelum mengelas lapisan tengah, hasil dari lapisan akar harus dibersihkan dengan baik.

MENGELAS LAPISAN TENGAH DAN PENUTUPNYA.

Untuk mengelas lapisan tengah dan lapisan penutup, dipakai elektroda. Tiap lapisan dikerjakan dengan gerak ayunan. Dan juga harus selalu diperhatikan, bahwa dalam pengelasan lapisan tengah tersebut harus terjadi penyatuan yang baik dengan lapisan akarnya. Ujung kampuh hasil penghentian pengelasan, harus dicairkan kembali. Untuk mengelas lapisan penutupnya, lapisan tengah harus dibersihkan dengan baik. Dalam mengelas lapisan penutup tersebut elektroda digerakkan dengan gerak ayunan dan jangan terlalu cepat, untuk menjaga supaya busur tidak terlepas dari cairan las dan dapat menyebabkan terak las mengalir lebih maju atau terak las mendahului. Pengotoran kampuh oleh terak las yang mengalir lebih dahulu, jelas harus dicegah. Sambungan sudut luar yang telah selesai, jangan sampai  menunjukkan tambahan tinggi yang nyata.

PETUNJUK

Kedua pelat yang membentuk sudut pertemuan, diikat seperti halnya pada sambungan -T.   Ikatan ini harus  menghasilkan sudut 90 derajat. Untuk dapat menghasilkan akar yang sempurna dalam mengelas, sudut pertemuannya memerlukan jarak  antara  ± 2,5 mm.

Thursday, December 3, 2015

PENGETAHUAN PERSIAPAN MATERIAL PENGELASAN


Pengetahuan Persiapan Material Pengelasan
Juru Las diwajibkan paham mengenai jenis material yang akan dilakukan pengelasan. Pemahaman yang dimaksud meliputi pengetahuan tentang material tersebut mengandung besi (ferro) atau tidak mengandung besi (non ferro). Selain itu juga harus memperhatikan mengenai material tersebut merupakan bahan paduan atau bahan murni, dengan memiliki pemahaman jenis bahan dan paduannya, maka selanjutnya bisa menentukan bagaimana proses pengelasan akan dilakukan, meliputi persiapan, pelaksanaan proses dan juga finishing.

TAHAP PERSIAPAN

Pada tahap persiapan dilakukan proses memutuskan hal-hal penting sebagai berikut :
  • Teknik proses las yang akan digunakan yang pilihannya antara lain adalah SMAW, GTAW, GMAW, OAW, SAW
  • Gas pelindungnya
  • Jenis elektroda yang digunakan
  • Pengaplikasian pre heating/post heating
  • Jenis polaritas yang digunakan (AC/DC+/DC-)
  • Besarnya arus pengelasan
  • Jenis nyala las untuk OAW
  • Tindakan-tindakan lainnya yang diperlukan
Persiapan tersebut perlu dilakukan agar menghasilkan hasil pengelasan yang maksimal dengan kriteria memiliki kekuatan mekanis, kimiawi ataupun syarat lainnya yang pada intinya emiliki sifat relatif sama dengan bahan material yang dilakukan pengelasan. Hasil pengelasan yang maksimal tersebut akan mempengaruhi keselamatan kerja dan umur konstruksi mesin.

KEUNTUNGAN PERSIAPAN MATERIAL YANG BAIK

Material yang digunakan pada proses pengelasan harus dipersiapkan secara serius sebelum dilakukan pengelasan karena akan memberikan kemungkinan keberhasilan jauh lebih besar dibandingkan pengelasan tanpa persiapan yang baik.

KERUGIAN PENGELASAN TANPA PERSIAPAN MATERIAL YANG BAIK

Beberapa hal yang mungkin bisa terjadi jika persiapan material yang dilakukan kurang baik antara lain adalah :
  • Penetrasi tidak baik. Yaitu terjadi penetrasi berlebihan dikarenakan root face terlalu tipis, root gap terlalu lebar atau juga bisa tidak terjadi penetrasi dikarenakan root face terlalu tebal, dan root gap terlalu sempit.
  • Penyempitan jalur pengelasan. Diakibatkan oleh las cacat yang tidak kuat.
  • Yaitu tidak ratanya benda kerja dikarenakan penempatan material sebelum di las cacat yang posisinya tidak rata.
  • Yaitu perubahan bentuk karena pengaruh panas.
  • Dikarenakan benda tidak dibersihkan dari karat atau bahan lain.

PERSIAPAN MATERIAL PENGELASAN

Persiapan material untuk proses pengelasan harus sesuai dengan Welder Prosedure  Specification (WPS) atau gambar kerja yang digunakan. WPS merupakan prosedur standar persiapan pengelasan yang didesain khusus melalui pengujian-pengujian di laboratorium oleh para ahli las yang sudah profesional, pengujian tersebut yang dimaksud dapat berupa radiography test, uji tarik, bend test,  atau juga structure/micro.
Persiapan material pengelasan terdiri dari :
  • Material pertama (sisi samping). Dilakukan pembersihan dari kotoran, karat atau bahan lain.
  • Material kedua (sisi yang berhubungan). Dilakukan gerinda rata pada area etrsebut agar pada saat dihubungkan dan saat diterawang tidak terdapat celah diantara keduanya, bila masih ada celah maka akan mengakibatkan penetrasi yang kurang baik. Bila dilakukan pengujian etsa, pada bagian yang celah tersebut tidak akan terjadi fusi atau tidak terjadi perpaduan logam tambah dengan material las, namun pada bagian tersebut akan terisi oleh terak dan selanjutnya disebut cacat slack inclution (terak terperangkap) disebabkan bagian tersebut terisi terak dan bukan logam sehingga bagian tersebut akan menjadi titik lemah dari konstruksi yang dikerjakan.

SPESIFIKASI POSISI PENEMPATAN MATERIAL PADA MEJA KERJA

Penempatan benda kerja disesuaikan dengan posisi pengelasan, dimana posisi pengelasan antara lain adalah :
  • 1F, 2F, 3F, 4F, 5F, 6F
  • 1G, 2G, 3G, 4G plate
  • 1G, 2G, 5G, 6G, 6GR (pipa)
Berbagai pilihan posisi pengelasan tersebut menunjukkan kualifikasi operator las yang berhak melakukan peneglasan, bila operator las mempunyai sertifikat kualifikasi 6G, maka diperbolehkan untuk melakukan pengelasan dengan semua posisi, namun bila operator las mempunyai sertifikat 4G plate, maka operator las tersebut tidak diperbolehkan melakukan pengelasan pipa pada posisi apapun, tetapi boleh melakukan pengelasan pada posisi pengelasan 1F, 2F, 3F, 4F ataupun 1G, 2G, 3G dan 4G.

KAWAT LAS MAINTENANCE EDZONA

Untuk mendapatkan hasil pengelasan yang maksimal seperti disebutkan pada tahap persiapan antara lain adalah pemilihan jenis electroda yang benar dan berkualitas baik. Silahkan kunjungi menu produk EDZONA untuk mendapatkan kawat las dengan kriteria kualitas terbaik.

Tuesday, December 1, 2015

CACAT LAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENETRASI


weldonreverse (1)

CACAT LAS

Cacat Las merupakan suatu kondisi hasil dari suatu proses pengelasan material dimana kondisi tersebut berupa kualitas hasil pengelasan yang kekuatannya menurun dibandingkan dengan kekuatan bahan dasar base metal, kurangnya kualitas tampilan dari hasil pengelasan ataupun juga berupa tinggi kekuatan hasil las yang berlebihan dan tidak sesuai dengankebutuhan kekuatan sebuah konstruksi.

KERUGIAN AKIBAT CACAT LAS

Jika cacat las terjadi pada suatu material yang dilakukan proses pengelasan, maka akan bisa mengakibatkan beberapa hal buruk yang seharusnya tidak terjadi, hal tersebut antara lain adalah resiko keselamatan kerja berupa alat, pekerja, lingkungan maupun perusahaan. Dalam segi ekonomi juga akan mengakibatkan kenaikan biaya produksi sehingga menimbulkan kerugian materi. Berdasarkan American Socety Mechanical Engineers ( ASME ), ada beberapa faktor penyebab cacat pengelasan, antara lain : lokasi area pekerjaan las yang kurang mendukung, operator las mengalami kesalahan (human error), teknik pengelasan yang salah, material yang salah.

PEMBAGIAN CACAT LAS SECARA UMUM

Pada umumnya cacat las dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
  1. Rounded Indication (Cacat Bulat). Cacat las ini masih bisa ditolerir dan diperbolehkan jika ukuran area yang terjadi cacat masih belum melebbihi ukuran maksimum sesuai kriteria syarat penerimaan yang digunakan.
  2. Linear Indication (Cacat Memanjang). Cacat las ini sama sekali tidak bisa ditolerir dan tidak diperbolehkan meliputi cacat berupa retak, penetrasi kurang dan peleburan kurang.

CACAT LAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENETRASI

Cacat las yang berhubungan dengan penetrasi adalah cacat las yang termasuk pada jenis cacat las Linier Indication (Cacat Memanjang) jadi jenis cacat yang berhubungan dengan penetrasi sama sekali tidak bisa ditolerir dan harus sangat dihindari oleh para operator las.
Cacat yang berhubungan dengan penetrasi ada dua macam yang antara lain adalah sebagai berikut :

1. CACAT LAS DENGAN PENETRASI BERLEBIH.

Pada Cacat las tersebut yang terjadi adalah logam las mencair sampai melewati tebal dari benda kerja dan menggantung pada bagian bawah dari hasil pengelasan.
Penyebab :
  • Heat input yang terlalu besar.
  • Teknik pengelasan yang kurang tepat.
Pencegahan :
  • Pencegahan yang bisa dilakukan antara lain:
  • Kecilkan arus listrik, jika perlu gunakan elektroda yang lebih kecil.
  • Percepat kecepatan pengelasan.

2. CACAT LAS KURANG PENETRASI (LACK OF PENETRATION)

Cacat las tersebut bisa terjadi dikarenakan logam las tidak berhasil mencapai akar dari sambungan dan tidak berhasil menyambungkan permukaan akar secara keseluruhan, hal tersebut disebabkan oleh kesalahan dalam memilih ukuran elektroda, arus listriknya terlalu kecil dan desain sambungan yang kurang memadai, pada umumnya kurang penetrasi dialami pada pengelasan dengan posisi vertikal dan overhead.
Penyebab :
  • Belum dilakukannya persiapan sambungan/groove pada material yang tebal atau sudah dilakukan tapi kurang memadai.
  • Kurang besarnya heat input.
  • Kurang tepatnya teknik pengelasan.
Pencegahan :
  • Ketepatan pembuatan groove sehingga mampu menyediakan akses pada bagian bawah sambungan.
  • Meningkatkan arus listrik, bila diperlukan juga menggunakan elektroda yang lebih besar.
  • Mengontrol kondisi busur las dan mengurangi kecepatan pengelasan.

KAWAT LAS MAINTENANCE EDZONA

Salah satu faktor penyebab cacat las antara lain adalah pemilihan electroda yang kurang tepat. Kawat Las Maintenance EDZONA menyediakan Kawat las beraneka jenis dengan kualitas yang baik dan tersedia beragam ukuran untuk emmenuhi kebutuhan kawat las Perusahaan Anda. Silahkan mengunjungi menu produk Kawat las EDZONA untuk menemukan Kawat las sesuai kebutuhan Anda.

Sunday, November 29, 2015

TEKNIK PENGELASAN FILLET 1F SAMBUNGAN T

Teknik  Pengelasan Fillet 1F Sambungan T
Pada pengelsan SMAW, terdapat banyak kasus untuk sambungan, salah satunya adalah sambungan fillet. Sambungan Fillet merupakan jenis sambungan yang banyak digunakan dalam dunia konstruksi maupun bidang manufaktur. Sambungan ini banyak macamnya diantaranya yang umum adalah sambungan “T”.

LANGKAH KERJA PENGELASAN

  1. Mengatur arus las (Ampere) sesuai dengan diameter elektroda.
  2. Mengelas ikat pada kedua ujung kampuh T.
  3. Meletakkan kampuh T pada alat bantu dalam posisi datar dibawah tangan.
  4. Mengelas kampuh T.
  5. Bersihkan terak las hasil pengelasan.
  6. Lanjutkan latihan mengelas (kampuh T) sampai menghasilkan alur las yang baik, rata dan simetris.

PETUNJUK PENGELASAN

Untuk menjaga agar kedua pelat jangan sampai bergeser dari posisi yang telah ditetapkan, maka kedua pelat di ikat dengan las ikat pada kedua ujung sambungan atau kampuh tersebut. Kedua pelat harus saling bersentuhan sedemikian rupa, supaya setelah diikat dengan las, tidak  enunjukkan adanya bagian yang bersentuhan itu longgar atau meneruskan sinar. Benda kerja diletakkan pada alat bantu posisi (kanal U) dalam posisi datar dibawah tangan. Untuk menyalakan elektroda dimulai pada titik ± 15 mm dari awal pinggir kampuh. Dan apabila busur listrik sudah menyala, maka batang elektroda digeser kearah permulaan dan selanjutnya proses pengelasan dapat dimulai.
Batang elektroda diarahkan seperti pada proses pengelasan rigi-rigi las, dan sudut arah melintang 45 0. Hasil dari pengelasan kampuh T ini dikatakan baik, apabila penampang kampuh menunjukkan peletakan yang sama dan rata pada kedua sisi pelat atau simetris Dalam pengelasan sambungan / kampuh T ini berarti bahwa ada dua pelat yang bertemu dalam posisi tegak lurus, pertemuan ini disebut pertemuan T.

KAMPUH T

Kampuh dari hasil pengelasan pertemuan T atau disebut kampuh T dapat ditunjukkan dengan symbol seperti gambar. Dengan memakai simbol-simbol, maka bentuk kampuh yang diminta, lebih jelas ditunjukkan. Seperti yang telah kita kenal beberapa kampuh sambungan T yaitu antara lain: Datar;  Cembung ; dan Cekung.

Friday, November 27, 2015

PENGETAHUAN PERSIAPAN MATERIAL PENGELASAN


Pengetahuan Persiapan Material Pengelasan
Juru Las diwajibkan paham mengenai jenis material yang akan dilakukan pengelasan. Pemahaman yang dimaksud meliputi pengetahuan tentang material tersebut mengandung besi (ferro) atau tidak mengandung besi (non ferro). Selain itu juga harus memperhatikan mengenai material tersebut merupakan bahan paduan atau bahan murni, dengan memiliki pemahaman jenis bahan dan paduannya, maka selanjutnya bisa menentukan bagaimana proses pengelasan akan dilakukan, meliputi persiapan, pelaksanaan proses dan juga finishing.

TAHAP PERSIAPAN

Pada tahap persiapan dilakukan proses memutuskan hal-hal penting sebagai berikut :
  • Teknik proses las yang akan digunakan yang pilihannya antara lain adalah SMAW, GTAW, GMAW, OAW, SAW
  • Gas pelindungnya
  • Jenis elektroda yang digunakan
  • Pengaplikasian pre heating/post heating
  • Jenis polaritas yang digunakan (AC/DC+/DC-)
  • Besarnya arus pengelasan
  • Jenis nyala las untuk OAW
  • Tindakan-tindakan lainnya yang diperlukan
Persiapan tersebut perlu dilakukan agar menghasilkan hasil pengelasan yang maksimal dengan kriteria memiliki kekuatan mekanis, kimiawi ataupun syarat lainnya yang pada intinya emiliki sifat relatif sama dengan bahan material yang dilakukan pengelasan. Hasil pengelasan yang maksimal tersebut akan mempengaruhi keselamatan kerja dan umur konstruksi mesin.

KEUNTUNGAN PERSIAPAN MATERIAL YANG BAIK

Material yang digunakan pada proses pengelasan harus dipersiapkan secara serius sebelum dilakukan pengelasan karena akan memberikan kemungkinan keberhasilan jauh lebih besar dibandingkan pengelasan tanpa persiapan yang baik.

KERUGIAN PENGELASAN TANPA PERSIAPAN MATERIAL YANG BAIK

Beberapa hal yang mungkin bisa terjadi jika persiapan material yang dilakukan kurang baik antara lain adalah :
  • Penetrasi tidak baik. Yaitu terjadi penetrasi berlebihan dikarenakan root face terlalu tipis, root gap terlalu lebar atau juga bisa tidak terjadi penetrasi dikarenakan root face terlalu tebal, dan root gap terlalu sempit.
  • Penyempitan jalur pengelasan. Diakibatkan oleh las cacat yang tidak kuat.
  • Misaligment. Yaitu tidak ratanya benda kerja dikarenakan penempatan material sebelum di las cacat yang posisinya tidak rata.
  • Distorsi. Yaitu perubahan bentuk karena pengaruh panas.
  • Porosity. Dikarenakan benda tidak dibersihkan dari karat atau bahan lain.

PERSIAPAN MATERIAL PENGELASAN

Persiapan material untuk proses pengelasan harus sesuai dengan Welder Prosedure  Specification (WPS) atau gambar kerja yang digunakan. WPS merupakan prosedur standar persiapan pengelasan yang didesain khusus melalui pengujian-pengujian di laboratorium oleh para ahli las yang sudah profesional, pengujian tersebut yang dimaksud dapat berupa radiography test, uji tarik, bend test,  atau juga structure/micro.
Persiapan material pengelasan terdiri dari :
  • Material pertama (sisi samping). Dilakukan pembersihan dari kotoran, karat atau bahan lain.
  • Material kedua (sisi yang berhubungan). Dilakukan gerinda rata pada area etrsebut agar pada saat dihubungkan dan saat diterawang tidak terdapat celah diantara keduanya, bila masih ada celah maka akan mengakibatkan penetrasi yang kurang baik. Bila dilakukan pengujian etsa, pada bagian yang celah tersebut tidak akan terjadi fusi atau tidak terjadi perpaduan logam tambah dengan material las, namun pada bagian tersebut akan terisi oleh terak dan selanjutnya disebut cacat slack inclution (terak terperangkap) disebabkan bagian tersebut terisi terak dan bukan logam sehingga bagian tersebut akan menjadi titik lemah dari konstruksi yang dikerjakan.

SPESIFIKASI POSISI PENEMPATAN MATERIAL PADA MEJA KERJA

Penempatan benda kerja disesuaikan dengan posisi pengelasan, dimana posisi pengelasan antara lain adalah :
  • 1F, 2F, 3F, 4F, 5F, 6F
  • 1G, 2G, 3G, 4G plate
  • 1G, 2G, 5G, 6G, 6GR (pipa)
Berbagai pilihan posisi pengelasan tersebut menunjukkan kualifikasi operator las yang berhak melakukan peneglasan, bila operator las mempunyai sertifikat kualifikasi 6G, maka diperbolehkan untuk melakukan pengelasan dengan semua posisi, namun bila operator las mempunyai sertifikat 4G plate, maka operator las tersebut tidak diperbolehkan melakukan pengelasan pipa pada posisi apapun, tetapi boleh melakukan pengelasan pada posisi pengelasan 1F, 2F, 3F, 4F ataupun 1G, 2G, 3G dan 4G.

KAWAT LAS MAINTENANCE EDZONA

Untuk mendapatkan hasil pengelasan yang maksimal seperti disebutkan pada tahap persiapan antara lain adalah pemilihan jenis electroda yang benar dan berkualitas baik. Silahkan kunjungi menu produk EDZONA untuk mendapatkan kawat las dengan kriteria kualitas terbaik.