Wednesday, October 14, 2015

WELDING PROCEDURE SPECIFICATION (WPS) DAN PROCEDURE QUALIFICATION RECORD (PQR)

Cara Menghitung Kebutuhan Kawat las (2)

WELDING PROCEDURE SPECIFICATION (WPS)

Welding Procedure Specification (WPS) adalah prosedur tertulis yang telah terkualifikasi yang disiapkan sebagai panduan untuk operator las dalam melakukan pengelasan yang memenuhi semua persyaratan standard maupun code. Welding Procedure Specification (WPS) merupakan standar wajib yang harus dipenuhi dalam proses pengelasan pada pengelolaan peralatan atau mesin-mesin industri yang berhubungan dengan pengelasan. Welding Procedure Specification wajib harus dipersiapkan sebelum dilakukannya proses pengelasan produk peralatan atau mesin-mesin industri tersebut yang antara lain adalah pressure vessel, heat exchanger, dan alat-alat lainnya.

PROCEDURE QUALIFICATION RECORD (PQR)

Procedure Qualification Record (PQR) adalah rekaman data-data dari hasil pengujian pengelasan yang telah dilaksanakan berdasarkan Welding Procedure Specification (WPS) dimana berisi variabel-variabel yang akan digunakan selama dilakukan pengelasan pelat uji. Procedure Qualification Record (PQR) merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari Welding Procedure Specification (WPS).

STANDARD CODE PEMBUATAN WELDING PROCEDURE SPECIFICATION (WPS)

  1. ASME IX, Digunakan pada boiler dan pressure vessel
  2. AWS D1.1, Digunakan pada struktural welding
  3. API 1104 , Digunakan pada pipe line
  4. EN288 (DIN), Digunakan pada metalic materials

PENERAPAN WPS PADA INDUSTRI ALAT BERAT

Welding Procedure Specification (WPS) sangat diperlukan dalam proses manufacturing khususnya yang berhubungan dengan proses pengelasan. Welding Procedure Specification (WPS) dan Procedure Qualification Record (PQR) sangat membantu pada kasus aktifitas improvement dimana dituntut untuk melakukan kegiatan reduction cost. Misalkan pada kasus pembuatan komponen suatu alat berat yang menggunakan base metal hasil import dari luar negeri, maka dengan Welding Procedure Specification (WPS) kita jadi bisa melakukan perubahan penggunaan material yang sudah tersedia di Indonesia namun tetap menggunakan material yang telah lulus uji dan tertera dalam Procedure Qualification Record (PQR). Maka bila dalam ujicoba tersebut berhasil, perusahaan akan mendapatkan beberapa keuntungan antara lain meminimalisir berbagai biaya yang akan jauh lebih besar jika menggunakan material import.

VARIABEL PEMBUATAN WPS

VARIABEL PENTING

Variabel Penting merupakan variabel yang mesti diperhatikan, dalam arti bila ada perubahan pada variabel tersebut maka harus dilakukan pengujian. Variabel penting terdiri dari :
  1. T (tebal plate) atau t (tebal bahan las yang terdeposisi)
  2. P Number yang terkualifikasi (material grouping)
  3. A Number
  4. Proses PWHT
  5. Perubahan proses las
  6. Perubahan suhu preheating
  7. Variabel tidak Penting

VARIABEL TIDAK PENTING

Variabel tidak Penting merupakan variabel yang meskipun dilakukan perubahan maka tidak akan mempengaruhi hasilnya, maka tidak perlu dilakukan pengujian. Variabel tidak penting terdiri dari:
  1. Design kampuh las
  2. Root gap
  3. Perubahan diameter kawat las
  4. Perubahan arah pengelasan
  5. Perubahan polaritas arus
  6. Perubahan metode gouging

KAWAT LAS PENDUKUNG WPS

Untuk mendukung penerapan WPS dan PQR, Kami menyediakan produk Kawat Las EDZONA yang lengkap dan akan menyuplai segala kebutuhan Kawat Las Anda. Silahkan mengunjungi menu produk untuk informasi lebih lanjut.

Monday, October 12, 2015

WELDING INSPECTOR (INSPEKTUR LAS)

Welding Inspector (Inspektur Las)
Welding Inspector (Inspektur Las) adalah seseorang yang bertindak sebagai Quality Control (QC) yang tugasnya secara khusus memastikan sambungan pengelasan yang telah di-las oleh juru las sudah betul-betul baik hasilnya dan sesuai dengan standar yang diharapkan Karena tugas seorang Welding Inspector memiliki tugas yang cukup penting maka syarat profesi tersebut juga meliputi sikap profesional, keahlian khusus, watak cepat tanggap dan mengutamakan tugas.

TUGAS WELDING INSPECTOR (INSPEKTUR LAS)

Tugas WELDING INSPECTOR (INSPEKTUR LAS) yaitu bertanggungjawab terhadap masalah dari kualitas pengelasan. Semua variable pengelasan harus sesuai dengan  Welding Procedure Specification (WPS), Procedure Qualification Record (PQR), dan Code yang sudah ditetapkan sebelumnya. Bila pada suatu sambungan ada yang terjadi indikasi cacat maka tugas Welding Inspector tersebut adalah untuk menentukan dengan cepat bahwa indikasi tersebut termasuk defect atau tidak. Jika termasuk defect juga masih perlu dilakukan pengecekan apakah masih dalam batas toleransi Code. Jika sudah melewati batas toleransi Code maka harus dilakukan repair. Sedangkan secara umum tugas Welding Inspector yaitu harus mengawasi, memeriksa dan memverifikasi kegiatan mulai dari sebelum, saat pengerjaan, maupun setelah proses pengelasan. Hal yang harus dilakukan pengecekan termasuk juga kelengkapan dokumen-dokumen.
Rincian tugas seorang Welding Inspectur bisa diuraikan sebagai berikut :
  1. Pemeriksaan Sebelum Proses Pengelasan
    • Pengecekan kembali semua standar dan gambar yang diperlukan
    • Pemeriksaan kesesuaian logam induk dan bahan las
    • Pemeriksaan komposisi kimia dan kemampuan mekanis yang ada pada sertifikat sudah sesuai dengan permintaan
    • Pemeriksaan kondisi elektroda dan penyimpanannya
    • Pemriksaan peralatan yang akan digunakan pada proses pengelasan
    • Pemeriksaan persiapan kampuh las
    • Pemeriksaan sambungan sementara (las cantum)
    • Pemeriksaan kebersihan pada sambungan
    • Pemeriksaan prosedur pengelasan dan kualifikasi juru las
    • Pemeriksaan pemanasan awal
  1. Pemeriksaan Selama Proses Pengelasan
    • Pemeriksaan parameter pengelasan berupa arus, tegangan maupun kecepatan las dipastikan sudah sesuai dengan prosedur pengelasan
    • Pemeriksaan kualitas masing-masing pass
    • Pemeriksaan kebersihan antar pass
    • Penentuan diperlukan pengujian perusakan atau tidak
  1. Pemeriksaan Setelah Pengelasan
    • Pemeriksaan penampakan hasil las
    • Pemeriksaan ukuran hasil pengelasan
    • Pemeriksaan ketepatan dari ukuran sambungan las
    • Pemilihan tempat dan sampel yang akan diuji
    • Pengevaluasian hasil pengujian
    • Penentuan diperlukan uji perusakan tambahan atau tidak
    • Pemeriksaan pemanasan setelah pengelasan (jika diperlukan)
    • Pembuatan dan Dokumentasi laporan hasil pengelasan
Penilaian kualitas seorang Welding Inspector bisa juga ditentukan melalui pemilihan elektroda untuk proses pengelasan. Welding Inspector tentu saja akan memilih Kawat Las dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kawat las EDZONA menyediakan Kawat Las maintenance dengan kriteria tersebut. Kawat las EDZONA memiliki kualitas yang baik dan tentu saja juga memiliki beragam jenis kawat las yang akan melengkapi kebutuhan pengelasan pada perusahaan. Untuk informasi produk EDZONA, silahkan kunjungi menu produk dan segera hubungi Kami untuk konsultasi, menanyakan harga dan juga transaksi pembelian, Kami melayani pengiriman untuk ke seluruh wilayah Indonesia.

Saturday, October 10, 2015

PERBAIKAN POMPA SENTRIFUGAL


Perbaikan Pompa Sentrifugal

A. TENTANG POMPA SENTRIFUGAL

1. PENGERTIAN POMPA SENTRIFUGAL

Dalam dunia industri migas, pompa yang paling banyak digunakan adalah pompa jenis sentrifugal, baik itu untuk pengangkatan minyak dari sumur maupun pengaliran minyak bumi. Pompa sentrifugal adalah pompa yang memiliki elemen utama berupa motor penggerak dan sudu impeller yang dapat berputar dengan kecepatan tinggi. Prinsip kerjan popmpa sentrifugal  adalah merubah energi mekanis alat penggerak menjadi energi kinetis kecepatan (fluida) lalu fluida di arahkan ke saluran buang menggunakan tekanan (energi kinetis dengan sebagian fluida diubah menjadi energi tekanan) menggunakan impeller yang berputar di dalam casing. Kemudian casing tersebut dihubungkan dengan saluran hisap (suction) dan juga saluran tekan (discharge), agar di dalam casing selalu terisi dengan cairan sehingga saluran hisap harus selalu  dilengkapi dengan katup kaki (foot valve).

2. KOMPOEN UTAMA POMPA SENTRIFUGAL

Pompa sentrifugal memiliki beberapa komponen penyusun baik itu komponen yang bergerak maupun yang tidak, sebagai berikut:
  1. Komponen yang bergerak:
  2. Shaft (Poros), adalah bagian yang dalam kondisi beroperasi berfungsi meneruskan momen putar dari penggerak selama pompa, komponen juga berungsi sebagai dudukan impeler dan bagian yang bergerak lain juga.
  3. Shaft sleeve, bagian berfungsi untuk melindungi shaft dari erosi, korosi dan keausan pada stuffing box. komponen ini bisa juga sebagai internal bearing, distance sleever dan leakage joint.
  4. Impeller, berfungsi untuk mengubah energi mekanis dari pompa menjadi energi kecepatan pada fluida yang dipompakan secara terus menerus. Dan dengan adanya proses ini maka saluran suction (hisap) akan dapat bekerja secara maksimal dan terus menerus sehingga dalam rumah pompa tidak ada kekosongan fluida.
  5. Wearing ring, komponen yang dipasang pada casing (wearing ring casing) dan impeller (wearing ring impeller). Fungsi utama dari wearing ring adalah untuk meminimalisir kebocoran yang terjadi akibat adanya celah antara impeller dan casing.
  6. Bagian yang tidak bergerak
  7. Casing (rumah pompa), adalah bagian terluar pompa sebagai pelindung elemen yang berada di dalamnya, tempat kedudukan difuser, intlet nozle, outlet nozle dan juga sebagai pengarah aliran dari impeller yang mengubah energi kecepatan menjadi energi tekan.
  8. Base plate, berfungsi sebagai tempat dudukan seluruh komponen pompa. Diffuser dilekatkan pada pipa dengan cara dibaut. Alat ini berfungsi mengarahkan aliran pada stage berikutnya dan merubah energi kinetik pada fluida menjadi energi tekanan.
  9. Wearing ring casing, alat yang dipasang pada casing untuk mencegah adanya kebocoran yang terjadi akibat ada celah pada impeller dan casing.
  10. Stuffing box, yang secara umum berfungsi sebagai tempat kedudukan beberapa mechanical packing yang mengelilingi shaft sleeve. Fungsinya mencegah kebocoran pada daerah yang dimana pompa menembus casing seperti udara yang dapat masuk ke dalam pompa dan juga cairan yang keluar dari dalam pompa.
  11. Discharge nozzle, sebagai tempat keluarnya cairan yang bertekanan dari dalam pompa.

PERBAIKAN POMPA SENTRIFUGAL

Perawatan dan Perbaikan Pompa Sentrifugal adalah hal yang harus dilakukan perusahaan agar pompa sentrifugal tetap berjalan lancar dan dapat bekerja secara maksimal. Jika terdapat kerusakan pada poma, salah satu solusinya adalah dengan melakukan pengelasan pompa. Kawat las yang digunakan harus kawat las yang dengan senyawa cocok dan kuat.

KAWAT LAS POMPA SENTRIFUGAL EDZONA-50 HR

AWS E St | AC/DC +/-
Diameter : 2,6 . 3,20 – 4,00
Hardness : 300-330 HB
kawat las untuk besi tuang yang terkontaminasi, berkomposisi bebas Ni, penetrasi baik serta hasil depositenya tidak korosi, tahan benturan dan tahan gesekan, keistimewaan dapat di tumpuk hasil lasnya lebih dari 3 lapis tidak retak walaupun tanpa under layer.

Thursday, October 8, 2015

MACAM BENTUK DEFORMASI LAS

DEFORMASI LAS

Dalam pengelasan, jika struktur las mengalami deformasi maka tidak dapat ditoleransi berdasarkan ketepatan ukuran dan estetika karena tegangan sisa yang besar pada struktur las dapat menyebabkan kerusakan struktur selama pemakaian. Bila struktur dipanaskan dan didinginkan secara merata menyeluruh, struktur tersebut akan memuai dan menyusut secara merata, tanpa deformasi atau tegangan termal. Bagaimanapun juga, saat pengelasan terjadi pemuaian daerah las dan penyusutan secara terbatas seperti bila dipanaskan dan didinginkan secara cepat. Dan bila daerah las ditahan dengan logam induk di sekelilingnya, maka deformasi dan tegangan sisa akan timbul. Jika struktur benda kerja yang dilas terbuat dari logam tipis, maka daerah las melengkung. Jika struktur yang dilas terbuat dari pelat tebal dan ditahan dengan struktur logam di sekelilingnya, maka deformasi pada daerah las akan sangat kecil dan tegangan sisa timbul di sekelilingnya. Sehingga, deformasi dan tegangan sisa memiliki hubungan saling berlawanan; jika yang satu dikurangi, yang lain akan bertambah.  Tegangan sisa pada struktur yang berkaitan dengan panjang deformasi akan menyebabkan ukuran tidaksesuai, yang dapat menghasilkan retak dan memicu retak rapuh dan karat.


Deformasi  disebut juga “Regangan Pengelasan” adalah regangan yang dapat terjadi pada benda kerja las sebagai hasil pengelasan. Deformasi las secara menyeluruh dikategorikan dalam tipe menyusut (shrink) dan melengkung (bending).  Di bawah ini adalah gambar bentuk deformasi las.
Deformasi Las

METODE PENCEGAHAN DEFORMASI LAS

Deformasi las dapat terjadi karena beberapa faktor, misalnya metode pengelasan, masukan panas, sudut penahan, urut-urutan pengelasan, ketebalan plat, bentuk sambungan, dan urut-urutan pengerjaan. Deformasi las dapat dicegah dengan cara mengontrol faktor-faktor tersebut. Pada saat pengelasan, lakukan cara – cara berikut untuk mencegah deformasi las adalah sebagai berikut :
  1. Meminimalkan masukan panas total pada tiap-tiap daerah pengelasan
  2. Bentuk kampuh bersudut kecil dengan bukaan akar kecil dan minimalkan jumlah logam las
  3. Hindarilah sambungan yang terkonsentrasi untuk mencegah konsentrasi masukan panas pengelasan
  4. Gunakanlah tumpuan penahan
  5. Ubah urutan pengelasan untuk memastikan penyusutan secara simetris dan juga untuk menghindari konsentrasi masukan panas
  6. Gunakanlah metode pengaturan penyimpangan

Tuesday, October 6, 2015

POST WELD HEAT TREATMENT PADA PENGELASAN

Post Weld Heat Treatment Pada Pengelasan
Post Weld Heat Treatment. Post weld Heat Treatment adalah proses yang bertujuan untuk pelepasan tegangan sisa (stress reliefe) yang terbentuk setelah proses pengelasan selesai. Pelepasan Tegangan Sisa (Stress Relieve) Pelepasan Tegangan Sisa (Stress Relieve) adalah proses yang memiliki tujuan untuk mengurangi semua tegangan sisa ataupun tegangan internal yang mungkin bisa saja terbentuk pada saat proses pengelasan. Tujuan Stress Relieve pada Post-Weld Heat Treatment setelah proses pengelasan adalah untuk mengembalikan kembali material kepada sifat yang diinginkan khususnya dalam hal ketangguhan, oelh karena itu struktur yang telah berubah karena proses pengelasan harus dikembalikan lagi ke struktur semula dengan melalui pemanasan dengan waktu dan dalam jangka waktu tertentu tergantung dari jenis dan ketebalan material.

RESIKO PROSES TANPA POST-WELD HEAT TREATMENT

Resiko Proses Tanpa Post Weld Heat Treatment adalah patah getas (bruttle fracture), Distorsi saat machining, terjadinya stress corrosion cracking

PROSES POST-WELD HEAT TREATMENT

Proses Post weld Heat Treatment dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
  • Memasukkan benda uji kedalam dapur atau
  • Melakukan pemanasan setempat localized yang dekat daerah yang dilakukan welding
Pemilihan methode hanya membutuhkan pertimbangan masalah ekonomis. Parameter Utama Pada Post-Weld Heat Treatment adalah Heating Rate, Holding Temperature, Cooling Rate

HAL PENTING PADA PROSES POST-WELD HEAT TREATMENT

  • Expansion area. Proses panas yang terjadi akan menyebabkan pemuaian dan expansi material, oleh karena itu sebaiknya diperhatikan bahwa saat stress relieve material tersebut tidak mengalami restraint (pengekangan).
  • Insulasi. Pada saat element sudah dipasangkan dengan benar, selanjutnya area disekitar (adjacent) element harus ditutup dengan menggunakan kowool atau ceramic fiber untuk tujuan menjaga kestabilan suhu.
  • Cleaning Material. Material yang diproses harus bersih dari segala grease/oil.
  • Support Material. Pada saat proses pemanasan yang dilakukan, hasilnya akan menyebabkan terjadinya pelunakan material, dengan adanya gaya gravitasi, sehingga material yang akan di Post-Weld Heat Treatmenr harus diberikan support sehingga tidak akan terjadi distorsion.

TIPS POST-WELD HEAT TREATMENT

Hal penting untuk diperhatikan seorang welding inspector saat dilakukan pengelasan yang melibatkan proses Post-Weld Heat Treatment adalah harus memahami kebutuhan dari proses  Post-Weld Heat Treatment tersebut untuk meyakinkan bahwa logam induk telah mengalami proses dengan benar dan memenuhi persyaratan dari Welding Procedure Specification (WPS) yang dibutuhkan.
Kawat Las Maintenance Merk EDZONA menyediakan berbagai type Kawat Las untuk memenuhi kebutuhan Kawat Las Perusahaan Anda. Silahkan mengunjungi link produk Kami untuk lebih detailnya.

Sunday, October 4, 2015

PENGARUH PANJANG BUSUR DAN KECEPATAN PENGELASAN


Pengaruh Panjang Busur dan Kecepatan Pengelasan

1. PENGARUH PANJANG BUSUR

Pada pengelasan, tegangan busur dapat diperiksa secara tidak langsung dengan pemeriksaan panjang busur pengelasan, dan lain-lain. Tegangan busur pengelasan yang  dianjurkan untuk las busur kawat las terbungkus (SMAW) adalah sekitar 30 Volt. Panjang busur harus diatur agar kira-kira sama dengan diameter inti kawat elektrode las yang digunakan. Apabila panjang busur bertambah, maka tegangan busur bertambah besar dan berakibat busurnya menjadi tidak stabil, juga menghasilkan kurang penembusan.  Di bawah ini adalah tabel yang menerangkan  pengaruh panjang busur terhadap hasil pengelasan.
Panjang busur terlalu panjangPanjang busur terlalu pendek
1. Kurang penembusan1. Kurang penembusan
2. Kemungkinan terjadi terak terperangkap tinggi2. Tampilan rigi las buruk
3. Konsentrasi busur kurang3. Rigi las sempit dan menggembung las karena oksidasi dan nitrasi
4. Pengurangan kekuatan logam4. Terak terperangkap
5. Rigi las lebar dan kekuatan rendah

2. PENGARUH KECEPATAN PENGELASAN

Pada saat pengelasan, kecepatan pengelasan yang sesuai ditentukan oleh macam dan diameter kawat las yang digunakan, macam sambungan, dan metode ayunan. Untuk las busur kawat las terbungkus (SMAW), kecepatan las dinyatakan sesuai jika dihasilkan penutupan terak yang tepat. Jika kecepatan las ditambah dengan arus las dan panjang busur tetap, lebar rigi-rigi las akan berkurang. Jika kecepatan pengelasan dikurangi, maka lebar rigi las dan ketinggian penguat akan bertambah, dan akan terbakar jika logam induk tipis. Di bawah ini adalah tabel yang membahas pengaruh kecepatan las pada hasil pengelasan.
Kecepatan las terlalu tinggiKecepatan las terlalu rendah
1. Rigi las sempit dengan permukaan yang sangat kasar1. Efisiensi las buruk runcing
2. Kemungkinan terjadi takikan tinggi2. Rigi las lebar dan penguatan
3. Bentuk gelombang rigi las tinggi
Jumlah lapisan las dan ketebalan rongga pada tiap lajur mempengaruhi perubahan struktur daerah las diakibatkan oleh masukan  panas pengelasan, dan sifat-sifat mekanis daerah las. Sehingga sangat penting dalam pemilihan kcepatan las yang tepat.

Friday, October 2, 2015

PENGARUH ARUS LAS

Pengaruh Arus Las
Kondisi pengelasan meliputi metode pengelasan, macam- macam arus yang digunakan (AC, DC elektrode positif, atau DC elektrode negatif), jumlah lajur, jumlah lapisan, arus las, tegangan busur, kecepatan las, kondisi pemanasan awal, suhu antar lajur pengelasan, dan perlakuan panas pasca pengelasan. Bagaimanapun, secara khusus, kondisi-kondisi pengelasan dipengaruhi pada arus las, tegangan busur dan kecepatan las.
Besarnya arus untuk pengelasan yang tepat dapat ditentukan berdasarkan ketebalan logam induk, macam dan diameter kawat las, macam sambungan, dan juga posisi saat pengelasan. Nilai standar dari parameter tersebut sudah disediakan untuk elektrode las dan dalam buku-buku petunjuk untuk teknik dan mesin las. Biasanya, pengelasan yang posisi datar dapat menggunakan arus yang relatif tinggi. Arus yang menggunakan pengelasan posisi vertikal lebih rendah 20% sampai 30%, dan arus untuk pengelasan posisi diatas kepala (overhead) lebih rendah 10% sampai 20% dari arus untuk pengelasan posisi datar. Efisiensi dalam pengelasan dapat ditambah dengan menambahkan arus las tapi harus diperhatikan karena arus yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kawat inti elektrode las mengalami kelebihan panas selama proses pemanasan, dan bahan fluks akan dapat memburuk, menyebabkan takikan dan tampilan rigi las yang buruk. Dan sebaliknya, arus las yang terlalu rendah dapat menyebabkan penumpukan, terjadinya cacat-cacat las, misalnya seperti kurang penembusan dan pemasukan terak.
Arus las terlalu tinggi Arus las terlalu rendahArus las terlalu tinggi Arus las terlalu rendah
1. Kemungkinan terjadi takikan tinggi1. Kurang penembusan
2. Percikan sangat banyak2. Kemungkinan terjadi penumpukan tinggi
3. Elektrode las panas  kemerahan3. Kemungkinana terak terperangkap tinggi
4. Penutupan terak tidak cukup  dan tampilan rigi las buruk4. Pengurangan kecepatan las
5. Kemungkinan terjadi lubang cacing dan retak tinggi5. Rigi las sempit dan menggembung
6.  Daerah las rapuh akibat panas berlebih
Sehingga dalam pengelasan untuk menentukan besarnya arus las yang tepat adalah yang penting. Pemilihan kawat las yang tepat untuk pengelasan kawat las baik ntuk arus tinggi maupun arus rendah adalah kawat las EDZONA. Kawat las EDZONA memiliki kualiotas yang tidak diragukan lagi, dengan kelengkapan tipe yang tersedia, segera pesan kawat las EDZONA melalui email kami di info@kawatlasedzona.com.